Perkembangan Islam di Negara
Afrika
1.
Sinegal
a.
Sejarah
Ketika War
Jabi (raja Tekrur) masuk islam pada abad XIII, kerajaan Tekrur menjadi bagian
dari Imperium Mali. Perkembangan Islam di Senegal mengalami perubahan pesat,
ketika aliran Terekat (sufi) mulai merasuk pada abad XVIII, yaitu dimulai
dengan masuknya aliran Qadariyah. Pada tahun 1820 (abad XIX), Al-Hajj Umat Tall
membawa aliran Tijaniyah dan berhasil membentuk kekaisaran yang meliputi
wilayah Senegal, Mali dan Guinea. Pada tahun 1887, syaikh Ahmadou BAMBA
mendirikan aliran Mauridiyah. Bila Sudan berpaham Sunni, maka perkembangan
Islam di Senegal dimotori oleh aliran tarekat (sufi), yaitu Qadariyah, Tijaniyah
dan Maudiriyah.
Walaupun
Islam dianut oleh sebagian besar bangsa Senegal, namun sebagaimana pula di
Indonesia, Islam belum dapat diterapkan sebagai dasar negara. Ini terbukti,
Pemerintah Senegal masih mengadopsi hukum sipil Perancis sebagai ‘legal system’nya.
Presiden
Senegal saat ini adalah ABDOULAYE WADE (Senegalese Democratic Party/PDS),
terpilih sejak tanggal 1 April 2000, menggantikan Abdou Diouf. Tantangan berat
yang dihadapi oleh Abdoulaye Wade berasal dari para buruh, persaudaraan Islam,
mahasiswa dan guru. Dan sebagai negara yang menganut paham demokrasi
(multipartai), hal yang demikian dianggap sesuatu yang lumrah
Senegal
pernah mengadakan konferederasi dengan negara tetangganya, GAMBIA ( Senegambia
Trade Confederation), ketika Abdou DIOUF masih aktif sebagai Presiden (1980).
Namun konfederasi ini mengalami kolaps pada tahun 1989. Bertepatan dengan itu,
Senegal juga mengalami krisis berat ketika terjadi pemberontakan separatis
Movement of Democratic Casamance Force (MDCF). Pemberontakan ini berakhir pada
tahun 1993.
b.
Sumber daya alam
· Perikanan
· Fosfat
· Bijih besi
c.
Bentuk negara
Bentuk
Negara sinegal adalah republik
2. GAMBIA
2. GAMBIA
a. Sejarah
Nama
lengkap Gambia adalah Republic of The Gambia dengan ibukotanya BANJUL, terbagi
dalam 5 divisi dan 1 kota. Banjul didirikan pada tahun 1816 oleh Henry
Bathurst, Sekretaris Kantor Kolonial Inggris di Gambia, namun terhitung tahun
1973, Bathurst diganti dengan Banjul. Gambia memperoleh kemerdekaan dari
Inggris pada tanggal 18 Pebruari 1965.
Untuk memperoleh kemerdekaan, rakyat Gambia memperjuangkannya dengan sangat berat. Karena sebagaimana lazimnya negara berkembang, Gambia tak dapat melepaskan diri dari penjajahan dan perbudakan. Penjajah pertama yang masuk Gambia adalah Portugal yang dating pada abad ke-15, tepatnya pada tahun 1455, ketika Alvise de Cadamosto dan Antonio Usi di Mare mendarat di James Island, Gambia. Mereka akhirnya memonopoli perdagangan gading, budak, emas, dan garam di Gambia sampai dengan abad ke-16. Selanjutnya, Jerman, Belanda, Perancis dan terakhir Inggris menguasai Gambia. Menurut catatan sejarah, orang-orang Barat sebenarnya dating ke Gambia, lebih menitikberatkan pada perdagangan budak, karena Gambia adalah pintu gerbang perdagangan budak. Dari tahun 1520-1820, diperkirakan 10 juta budak diperjualbelikan oleh mereka, sebagian besar berasal dari Afrika Barat. Di Amerika, sebagaimana diceritakan dalam buku ‘Roots’, salah satu budak dari Gambia yang dikenal dengan nama Kunta Kinte, mempunyai keturunan di negara bagian Maryland, dengan mewariskan segenap budaya Gambia. Kunta Kinte (lahir tahun 1750)adalah salah seorang budak dari 98 budak yang di bawa ke Amerika pada tahun 1767. Beliau adalah keturunan Kairaba Kunta Kinte, orang suci suku Mandinka, Gambia. Salah seorang keturunan Kunta Kinte adalah Alex Haley, penulis buku ‘Roots’ tersebut. Keluarga Kunta Kinte sangat disegani di Maryland.
Pada tahun 1820, Gambia dijadikan negara protektorat Inggris, dan pada tahun 1843, menjadi bagian dari koloni Kerajaan Inggris. Lelah dijajah, masyarakat Gambia berhasrat mengurus dirinya sendiri, setelah terjadi Perang Dunia II. Akhirnya pada tanggal 18 Pebruari 1965, Inggris bersedia memberikan kemerdekaan kepada Gambia, dengan Ratu Elizabeth sebagai Kepala Negara. Setelah diadakan referendum, maka pada tanggal 24 April 1970, Gambia berubah menjadi Republic of The Gambia. Oleh karena itu, Gambia memperingati hari kemerdekaannya sebanyak dua kali, yaitu, pertama tanggal 18 Pebruari, dan kedua 24 April. Sebagai presiden pertama, terpilih Sir Dawda Kairaba Jawara. Beliau terpilih kembali sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1972 dan tahun 1977. Pada tahun 1981 terjadi kudeta, yang dikomndai oleh Kukoi Samba Sanyang, namun kudeta ini dapat digagalkan dengan bantuan tentara dari Senegal. Karena bantuan inilah, Gambia akhirnya membentuk negara konfederasi dengan Senegal pada tahun 1982 – 1989, ketika Senegal dipimpin oleh Abdou Diouf. Negara konfederasi tersebut akhirnya berantakan pada tahun 1989. Beliau berkuasa sampai dengan tahun 1994. Namun pada bulan uli 1994, seorang letnan muda, yaitu Al-Hajj Yahya Alphonse Jamus Jebulai (AJJ) Jammeh berhasil menurunkan presiden Dawda K. Jawara. Yahya Jammeh berkuasa hingga tahun 2006. Gambia termasuk negara Afrika yang maju selangkah dalam hal gender, karena wakil presiden Gambia saat ini dijabat oleh seorang wanita, yaitu Isotou Njie Saidy.
Untuk memperoleh kemerdekaan, rakyat Gambia memperjuangkannya dengan sangat berat. Karena sebagaimana lazimnya negara berkembang, Gambia tak dapat melepaskan diri dari penjajahan dan perbudakan. Penjajah pertama yang masuk Gambia adalah Portugal yang dating pada abad ke-15, tepatnya pada tahun 1455, ketika Alvise de Cadamosto dan Antonio Usi di Mare mendarat di James Island, Gambia. Mereka akhirnya memonopoli perdagangan gading, budak, emas, dan garam di Gambia sampai dengan abad ke-16. Selanjutnya, Jerman, Belanda, Perancis dan terakhir Inggris menguasai Gambia. Menurut catatan sejarah, orang-orang Barat sebenarnya dating ke Gambia, lebih menitikberatkan pada perdagangan budak, karena Gambia adalah pintu gerbang perdagangan budak. Dari tahun 1520-1820, diperkirakan 10 juta budak diperjualbelikan oleh mereka, sebagian besar berasal dari Afrika Barat. Di Amerika, sebagaimana diceritakan dalam buku ‘Roots’, salah satu budak dari Gambia yang dikenal dengan nama Kunta Kinte, mempunyai keturunan di negara bagian Maryland, dengan mewariskan segenap budaya Gambia. Kunta Kinte (lahir tahun 1750)adalah salah seorang budak dari 98 budak yang di bawa ke Amerika pada tahun 1767. Beliau adalah keturunan Kairaba Kunta Kinte, orang suci suku Mandinka, Gambia. Salah seorang keturunan Kunta Kinte adalah Alex Haley, penulis buku ‘Roots’ tersebut. Keluarga Kunta Kinte sangat disegani di Maryland.
Pada tahun 1820, Gambia dijadikan negara protektorat Inggris, dan pada tahun 1843, menjadi bagian dari koloni Kerajaan Inggris. Lelah dijajah, masyarakat Gambia berhasrat mengurus dirinya sendiri, setelah terjadi Perang Dunia II. Akhirnya pada tanggal 18 Pebruari 1965, Inggris bersedia memberikan kemerdekaan kepada Gambia, dengan Ratu Elizabeth sebagai Kepala Negara. Setelah diadakan referendum, maka pada tanggal 24 April 1970, Gambia berubah menjadi Republic of The Gambia. Oleh karena itu, Gambia memperingati hari kemerdekaannya sebanyak dua kali, yaitu, pertama tanggal 18 Pebruari, dan kedua 24 April. Sebagai presiden pertama, terpilih Sir Dawda Kairaba Jawara. Beliau terpilih kembali sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1972 dan tahun 1977. Pada tahun 1981 terjadi kudeta, yang dikomndai oleh Kukoi Samba Sanyang, namun kudeta ini dapat digagalkan dengan bantuan tentara dari Senegal. Karena bantuan inilah, Gambia akhirnya membentuk negara konfederasi dengan Senegal pada tahun 1982 – 1989, ketika Senegal dipimpin oleh Abdou Diouf. Negara konfederasi tersebut akhirnya berantakan pada tahun 1989. Beliau berkuasa sampai dengan tahun 1994. Namun pada bulan uli 1994, seorang letnan muda, yaitu Al-Hajj Yahya Alphonse Jamus Jebulai (AJJ) Jammeh berhasil menurunkan presiden Dawda K. Jawara. Yahya Jammeh berkuasa hingga tahun 2006. Gambia termasuk negara Afrika yang maju selangkah dalam hal gender, karena wakil presiden Gambia saat ini dijabat oleh seorang wanita, yaitu Isotou Njie Saidy.
b.
Sumber daya alam
Gambia
tidak mempunyai mineral atau sumberdaya alam yang penting, seperti minyak, gas,
besi dan sebagainya Gambia hanya mempunyai lahan pertanian yang terbatas. 75%
penduduk sangat bergantung pada panen (padi) dan hasil peternakan sebagai mata
pencaharian pokoknya. Dalam skala kecil mereka mengusahakan industri yang
berbasis pada produk kacang, ikan dan kulit. Ekonomi hanya tumbuh sekitar 3%,
sedangkan inflasi berkisar 14%. Angkatan kerja (400.000 orang) diserap oleh
bidang pertanian 75%, industri dan jasa 19% serta pemerintah 6%. Income
per-capita berkisar US $ 1,000,-, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata
per-tahun 3,8% dan inflasi 2,2%. Hasil pertanian berkisar pada beras, kacang,
sorghum, jagung dan peternakan, sedangkan hasil industri berkisar pada produk
kacang, ikan kulit, turis dan pakaian.
Angka eksport sebesar US $ 156 juta, dan import sebesar US $ 271 juta. Komoditi eksport adalah produk kacang, ikan dan kain, dengan patner eksport Malaysia, Inggris, Belgia, Cina, Jerma, Italia dan Thailand. Sedangkan komoditi importnya adalah bahan makanan, manufaktur dan permesinan dengan patner import Cina, Senegal, Inggris, Brazil, Belanda, dan India. Indonesia belum termasuk dalam keduanya.
Gambia juga mendulang devisa dari dunia turisme (pariwisata), karena Gambia mempunyai banyak obyek wisata maupun event yang mampu menarik para pelancong dari mancanegara, khsususnya dari Amerika Serikat dan Eropa. Obyek wisata terkenal di Gambia antara lain ‘stone circles’ (diidentikkan dengan pyramid di Mesir) di Kerr Batch dan Wassu, pantai yang indah (Bakau, Fajara, Kotu dan Kololi), serta event internasional yang sangat diminati para turis, yaitu ‘International Roots Festival’ (mengenang zaman perbudakan), yang berisikan materi: musik, tari, seni dan seminar. Mata uang Gambia adalah Dalasi (GMD), US $ 1,- = 19,9189 GMD.
Angka eksport sebesar US $ 156 juta, dan import sebesar US $ 271 juta. Komoditi eksport adalah produk kacang, ikan dan kain, dengan patner eksport Malaysia, Inggris, Belgia, Cina, Jerma, Italia dan Thailand. Sedangkan komoditi importnya adalah bahan makanan, manufaktur dan permesinan dengan patner import Cina, Senegal, Inggris, Brazil, Belanda, dan India. Indonesia belum termasuk dalam keduanya.
Gambia juga mendulang devisa dari dunia turisme (pariwisata), karena Gambia mempunyai banyak obyek wisata maupun event yang mampu menarik para pelancong dari mancanegara, khsususnya dari Amerika Serikat dan Eropa. Obyek wisata terkenal di Gambia antara lain ‘stone circles’ (diidentikkan dengan pyramid di Mesir) di Kerr Batch dan Wassu, pantai yang indah (Bakau, Fajara, Kotu dan Kololi), serta event internasional yang sangat diminati para turis, yaitu ‘International Roots Festival’ (mengenang zaman perbudakan), yang berisikan materi: musik, tari, seni dan seminar. Mata uang Gambia adalah Dalasi (GMD), US $ 1,- = 19,9189 GMD.
c.
Bentuk pemerintahan
Bentuk
Negara gambia adalah republic dan dipimpin oleh presiden
3.
GUINEA
a.
Sejarah
Nama
lengkap Guinea adalah Republic of Guinea, terbagi dalam 33 prefectures (semacam
propinsi) dan satu special zone, dengan ibukotanya CONAKRY. Memperoleh kemerdekaan
dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958, dengan menggunakan system hokum
yangv diadopsi dari system hokum sipil Perancis. Tak beda dengan negara
tetangganya, tuntutan kemerdekaan telah dimulai ketika pemimpin suku Malinke
(Mandingo), Almamy Samory Toure memerangi bangsa Perancis pada abad 19, namun
Almamy dapat ditakllukkan. Sebenarnya Guinea pada abad ke-18 telah mempunyai
pemerintahan dengan system teokrasi muslim yang dipelopori oleh Futa Djalon
(suku Fulani), namun pemerintahan ini takluk di bawah kekuasaan penjajah.
Perjuangan Almamy Samory Toure dalam mengusir penjajah Perancis dilanjutkan oleh cucunya sendiri, yaitu Ahmed Sekou Toure pada abad 20, tepatnya pada tahun 1957, ketika beliau memenangkan 56 kursi dari 60 kursi yang diperebutkan di Parlemen. Ahmed Sekou Toure akhirnya dilantik menjadi Presiden, ketia Guine memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958. Ahmed Sekou Toure menganut paham komunis, sehingga ketia beliau berkuasa, Guinea menjadi negara dengan system satu partai dan sangat dictator, menganut ekonomi sosialis serta tak ada toleransi dalam hak azasi manusia, kebebasan berpendapat atau partai oposisi. Pada akhirnya, Guinea diisolasi oleh dunia. Karena melihat situasi Negara yang tidak mnguntungkan tersebut, pada tanggal 10 April 1984, Letnan Kolonel LANSANA CONTE (berasal dari suku Susu) mengambil alih kekuasaan dari tangan Ahmed Sekou Toure (seminggu setelah beliau wafat). Setelah Lansana Conte berkuasa, maka kran kebebasan dibuka seluas-luasnya, termasuk diizinkannya berdirinya partai politik baru. Pada tahun 1990 dibentuk Parlemen dan Pengadilan baru, dan pada tahun 1993 diadakan pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden terakhir yang diadakan pada tanggal 21 Desember 2003, Lansana Conte terpilih kembali sebagai Presiden Guinea hingga tahun 2008.
Perkembangan Islam di Guinea
Islam masuk Guinea pada abad ke-10, ketika kerajaan Malinke, Shonghai maupun Ghana berkuasa di sana. Oleh karena itu, suasana keberagamaan di negara itu sangat kental diwarnai oleh Islam (85%). Seperti Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Guinea juga banyak dilakukan oleh pejuang-pejuang Islam, dan yang sangat terkenal adalah Almamy Samory Toure. Sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini, salah satu suku di Guinea yaitu suku Fulani, yang dipolopori oleh Futa Djalon, telah berhasil mendirikan pemerintahan di Guinea dengan system pemerintahan teokrasi Islam. Dengan demikian, tak dapat diragukan lagi, bahwa pengaruh Islam sangat kuat di Guinea.
Suku Fulani (Fulbe/Peuhl) yang berasal dari Afrika Tengah yang beragama Islam, bermigrasi ke Guinea pada abad ke-15, dan dikenal dengan Fouta Djalon. Pada tahun 1720-an, Fouta Djalon telah mengumdangkan ‘jihad’ (perang suci bagi ummat Islam) dalam rangka mendirikan sebuah pemerintahan berdasarkan Islam (teokrasi). Pemimpin Fouta Djalon yang sangat terkenal adalah Karamoko Alfa, yang dikenal dengan sebutan Almaamis. Karamoko Alfa sekaligus sebagai pemimpin, pendiri negara dan memerintah suku muslim Fulani (Fulbe). Perjuangan ini diteruskan oleh Alfa Yaayaa, seorang pemimpin kuat yang berusaha mengusir penjajah Perancis, dan akhirnya dipenjara pada tahun 1905. Dibanding dengan para tetangganya, Guinea termasuk negara Islam yang tak begitu terpengaruh dengan aliran sufi, mereka banyak dipenuhi oleh kemauan jihad Islam yang menggebu dan dikenal sangat heroik. Namun tak beda dengan Indonesia, saat ini ummat Islam Guinea juga menghadapi gencarnya misiionaris Kristen yang dimotori oleh Christian Reformed World Missions. Suku Fulani atau Fulbe (Futa Djalon) tempat tumbuhnya ‘jihad Islam’ yang dimotori oleh Almamy Samoty Toure, menjadi sasaran mereka. Sebanyak 300.000 penduduk Fulani/Fulbe yang terkonsentrasi di Guinea tengah diharapkan dapat dikristenkan. Mereka telah berusaha menancapkan pengaruhnya melalui ‘penterjemahan Bible ke dalam bahasa Pular, mendirikan radio dan mengembangkan kesusastraan atau artikel-artikel untuk konsumsi para murid sekolah dasar dan menengah.’ Dan pada kenyataannya, memang makin banyak suku Fulani/Fulbe yang tertarik masuk Kristen. Oleh karena itu, merupakan perjuangan berat bagi para ulama dan pemimpin Islam di Guinea untuk membendungnya. Dan alhamdulillah, para pemimpin Islam dan ulama di negara-negara teluk mengantisipasi keadaan tersebut, dan mereka berusaha membujuk para ’murtadin’ untuk kembali ke pangkuan Islam.
Perjuangan Almamy Samory Toure dalam mengusir penjajah Perancis dilanjutkan oleh cucunya sendiri, yaitu Ahmed Sekou Toure pada abad 20, tepatnya pada tahun 1957, ketika beliau memenangkan 56 kursi dari 60 kursi yang diperebutkan di Parlemen. Ahmed Sekou Toure akhirnya dilantik menjadi Presiden, ketia Guine memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958. Ahmed Sekou Toure menganut paham komunis, sehingga ketia beliau berkuasa, Guinea menjadi negara dengan system satu partai dan sangat dictator, menganut ekonomi sosialis serta tak ada toleransi dalam hak azasi manusia, kebebasan berpendapat atau partai oposisi. Pada akhirnya, Guinea diisolasi oleh dunia. Karena melihat situasi Negara yang tidak mnguntungkan tersebut, pada tanggal 10 April 1984, Letnan Kolonel LANSANA CONTE (berasal dari suku Susu) mengambil alih kekuasaan dari tangan Ahmed Sekou Toure (seminggu setelah beliau wafat). Setelah Lansana Conte berkuasa, maka kran kebebasan dibuka seluas-luasnya, termasuk diizinkannya berdirinya partai politik baru. Pada tahun 1990 dibentuk Parlemen dan Pengadilan baru, dan pada tahun 1993 diadakan pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden terakhir yang diadakan pada tanggal 21 Desember 2003, Lansana Conte terpilih kembali sebagai Presiden Guinea hingga tahun 2008.
Perkembangan Islam di Guinea
Islam masuk Guinea pada abad ke-10, ketika kerajaan Malinke, Shonghai maupun Ghana berkuasa di sana. Oleh karena itu, suasana keberagamaan di negara itu sangat kental diwarnai oleh Islam (85%). Seperti Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Guinea juga banyak dilakukan oleh pejuang-pejuang Islam, dan yang sangat terkenal adalah Almamy Samory Toure. Sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini, salah satu suku di Guinea yaitu suku Fulani, yang dipolopori oleh Futa Djalon, telah berhasil mendirikan pemerintahan di Guinea dengan system pemerintahan teokrasi Islam. Dengan demikian, tak dapat diragukan lagi, bahwa pengaruh Islam sangat kuat di Guinea.
Suku Fulani (Fulbe/Peuhl) yang berasal dari Afrika Tengah yang beragama Islam, bermigrasi ke Guinea pada abad ke-15, dan dikenal dengan Fouta Djalon. Pada tahun 1720-an, Fouta Djalon telah mengumdangkan ‘jihad’ (perang suci bagi ummat Islam) dalam rangka mendirikan sebuah pemerintahan berdasarkan Islam (teokrasi). Pemimpin Fouta Djalon yang sangat terkenal adalah Karamoko Alfa, yang dikenal dengan sebutan Almaamis. Karamoko Alfa sekaligus sebagai pemimpin, pendiri negara dan memerintah suku muslim Fulani (Fulbe). Perjuangan ini diteruskan oleh Alfa Yaayaa, seorang pemimpin kuat yang berusaha mengusir penjajah Perancis, dan akhirnya dipenjara pada tahun 1905. Dibanding dengan para tetangganya, Guinea termasuk negara Islam yang tak begitu terpengaruh dengan aliran sufi, mereka banyak dipenuhi oleh kemauan jihad Islam yang menggebu dan dikenal sangat heroik. Namun tak beda dengan Indonesia, saat ini ummat Islam Guinea juga menghadapi gencarnya misiionaris Kristen yang dimotori oleh Christian Reformed World Missions. Suku Fulani atau Fulbe (Futa Djalon) tempat tumbuhnya ‘jihad Islam’ yang dimotori oleh Almamy Samoty Toure, menjadi sasaran mereka. Sebanyak 300.000 penduduk Fulani/Fulbe yang terkonsentrasi di Guinea tengah diharapkan dapat dikristenkan. Mereka telah berusaha menancapkan pengaruhnya melalui ‘penterjemahan Bible ke dalam bahasa Pular, mendirikan radio dan mengembangkan kesusastraan atau artikel-artikel untuk konsumsi para murid sekolah dasar dan menengah.’ Dan pada kenyataannya, memang makin banyak suku Fulani/Fulbe yang tertarik masuk Kristen. Oleh karena itu, merupakan perjuangan berat bagi para ulama dan pemimpin Islam di Guinea untuk membendungnya. Dan alhamdulillah, para pemimpin Islam dan ulama di negara-negara teluk mengantisipasi keadaan tersebut, dan mereka berusaha membujuk para ’murtadin’ untuk kembali ke pangkuan Islam.
b.
Sumber daya alam
Guinea
memiliki kekayaan yang melimpah, baik mineral, hydropower maupun hasil
pertanian. Negara ini memiliki 30% tambang bauxite dunia, dan termasuk negara
penghasil bauxite kedua terbesar di dunia. Pada tahun 1999, hasil export
bauxite memberikan sumbangan sebanyak 75% dari total eksport Guinea. Mempunyai
angka pertumbuhan rata-rata 3% dan inflasi cukup tinggi sekitar 14,8%. Jumlah
angkatan kerja sebanyak 3 juta orang, yang diserap oleh sector pertanian sebanyak
80% serta industri dan jasa sebesar 20%. Hasil pertanian berkisar pada beras,
kopi, nenas, tapioca, pisang, kentang manis, peternakan biri-biri dan kambing
serta kayu. Sedangkan hasil industri berkisar pada bauxite, emas, berlian,
aluminium, dan hasil indusrtri pertanian. Hasil komoditi yang dieksport adalah
bauxite, emas, eluminium, berlian, kopi, ikan serta produk pertanian. Tujuan
eksport adalah Korea Selata, Spanyol, Amerika Serikat, Perancis, Rusia,
Ukraina, Irlandia, Belgia, dan Jerman. Sedangkan komoditi yang diimport adalah
produk minyak, mesin, tekstil, metals, dan peralatan transportasi. Komoditi
import berasal dari Perancis, Cina, Belgia, Italia, Belanda, Inggris, Pantai
Gading dan Amserika Serikat. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang
yang digunakan adalah Guinea France (GNF), 1 GNF senilai US $ 1,975.84.
c.
Bentuk pemerintahan
Sistem
pemerintahan: Parlementer [Presiden dipilih secara langsung. Masa baktinya 5
tahun. Setelah terpilih, presiden mengangkat Perdana Menteri setelah
berkonsultasi dengan pimpinan Parlemen. Presiden bertindak selaku kepala
negara, sementara PM selaku kepala pemerintahan.
0 komentar:
Posting Komentar